Critical Knowledge and Skills of Business School Graduates
Artikel ini saya buat untuk melengkapi pengetahuan dan wawasan dari para praktisi khususnya sebagai lulusan dari Sekolah Bisnis yang ternyata banyak juga yang memasuki lapangan kerja dalam bidang komunikasi atau public relations – khususnya sebagai financial PR.
Satu studi yang dilakukan oleh guru besar dari Indiana Purdue University di Amerika Serikat menemukan data yang cukup menarik untuk diketahui. Sebanyak 50 pimpinan perusahaan yang menjadi responden dari studi ini. Responden bekerja sebagai manajer proyek, cash flow analysis, financial risk analisis, cost benefit analisis dan ada yang bekerja dalam team.
Responden berasal dari industri manufaktur (23%), bank dan investasi (16%), akunting dan jasa keuangan (13%), telekomunikasi (10%), industri kesehatan (10%), eceran dan distribusi, serta real estate dan konstruksi – masing-masing sebanyak 3%.
Pengetahuan bisnis dan keterampilan apa yang diharapkan dimiliki oleh alumni setelah 4 tahun menempuh di perguruan tinggi?
Ditemukan data bahwa keahlian komunikasi, berpikir kritis, pemecahan masalah menjadi kendala di tempat kerja. Meskipun tidak secara spesifik disebutkan apakah mereka alumni dari akuntansi, keuangan, management atau marketing.
Malinger (1998) membuat survey yang menyertakan 62 tenaga pengajar dan anggota dari dewan penasihat fakultas, menanyakan – apa yang menjadi keterampilan yang diperlukan oleh manager abad ke 21 ini. Di antara 5 keterampilan atribut yang diidentifikasikan oleh responden yaitu:
- Komunikasi dan keterampilan komunikasi interpersonal
- Orientasi etika dan spiritualisme
- Kemampuan mengelola perubahan dan memotivasi orang lain
- Kemampuan menganalisa dan pemecahan masalah
- Kemampuan untuk menjadi manager yang strategis dan visioner
Peter D. Hart, pada tahun 2006 melakukan survey yang melibatkan 305 pemberi kerja dan 510 alumni menemukan data bahwa hasil studi yang diharapkan dikelompokkan menjadi 4 kategori:
- Kemampuan untuk mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilannya dalam situasi yang nyata melalui internship atau pengalaman di lapangan
- Pengetahuan mengenai kultur dan sumber daya alam yang diperoleh melalui pelajaran dari seni, masyarakat dan ilmu pengetahuan
- Kemampuan intelektual dan praktikal seperti komunikasi, berpikir kritis dan pemecahan masalah
- Tanggung jawab sosial dan pribadi, integritas dan ethics, kerjasama dan keragaman global.
Selanjutnya, Andrew dan Higson (2008), melakukan studi kualitatif di 4 negara Eropa. Hasil studi ini menyatakan bahwa pengalaman kerja, kemampuan menguasai keterampilan bisnis sangat penting dan meyakinkan bahwa ‘soft skills’ sangat diperlukan diatas ‘hard skills’ yang mereka pelajari secara formal.
Survey lain yang dilakukan pada tahun 2011 menyatakan dimensi soft skills dan pengetahuan profesional. Keterampilan lain yang diperlukan adalah etik, kerjasama dalam team dan kejujuran.
David et al (2021) membandingkan adanya kesenjangan antara sekolah bisnis dan komunitas bisnis. Mereka mengevaluasi 200 resume dari mahasiswa senior tahun akhir yang hampir selesai dan menemukan data bahwa ‘low to no proficiency on job description-derived skills sets’. Penemuan ini lebih menjelaskan adanya kesenjangan antara sekolah bisnis dengan kebutuhan praktisi di lapangan yang didukung oleh lebih dari 20 textbook yang mendukung temuan tersebut. Disimpulkan bahwa perlu dilakukan survey secara periodik antara harapan pemberi kerja untuk mengurangi kesenjangan antara kurikulum pendidikan formal dan kebutuhan komunitas bisnis.
Berdasarkan informasi yang saya kumpulkan selama ini, ketika berbicara dengan pemberi jasa atau manager senior yang berprofesi sebagai komunikator perusahaan diperoleh informasi bahwa karyawan baru di bidang komunikasi, yang mempunyai latar belakang pengetahuan bisnis lebih cepat dapat beradaptasi dalam pekerjaannya.
Satu kata kunci yang sering dituliskan dalam jurnal profesional adalah “business acumen”. Kemampuan untuk memahami dan menghadapi berbagai situasi bisnis, segala risiko dan peluangnya untuk mendapatkan hasil yang maksimum dan menguntungkan. Business acumen diartikan sebagai keahlian untuk memahami bisnis secara mendetail. Dapat memahami berbagai isu bisnis, mengetahui bagaimana caranya beradaptasi, membuat keputusan yang terbaik yang berdampak positif untuk seluruh karyawan dan perusahaannya.
Mengapa business acumen dianggap penting bagi praktisi PR ?
CEO perusahaan besar merasa bahwa mengkomunikasikan nilai-nilai perusahaan sekarang menjadi lebih kompleks dan menjadi salah satu perhatian yang harus disikapi dengan cepat.
Keterampilan dan persyaratan yang diminta oleh CEO terhadap praktisi PR semakin berkembang. Pengalaman di bidang komunikasi sudah dianggap hal yang standard, seperti layaknya kemampuan berbahasa Inggris yang sudah menjadi keharusan – it is just taken for granted.
Seorang karyawan, jika bekerja dalam suatu organisasi terkait pada sistim, dimana dalam pekerjaannya, sekecil apapun – dia harus dapat membuat keputusan dalam berbagai situasi yang mendesak. Dalam melaksanakan pekerjaannya, dia harus dapat berpikir, bertindak untuk membantu mengembangkan perusahaan ke arah yang positif, menciptakan kondisi kerja yang sehat dan berani bertanggung jawab terhadap risiko.
Aspek business acumen mencakup banyak hal yang perlu diketahui oleh praktisi PR khususnya di tingkat managerial yang banyak berkomunikasi dengan senior managers, diminta sarannya dalam rapat management masukkannya juga. Tanpa pengetahuan yang luas ini, di luar komunikasi biasanya dia tidak akan dapat ‘bekerjasama dengan management team’ karena dianggap tidak bermanfaat dalam proses pengambilan keputusan.
Sebagai kesimpulan :
- Industri memerlukan praktisi yang dapat membantu mencari solusi untuk mengatasi semua permasalahan yang terjadi di dalam situasi ketidakpastian ini.
- Banyak baca, cari mentor dan belajar terus dengan mereka yang benar2 paham bagaimana menempatkan diri dalam management sehingga mendapat pengakuan terhadap kualitas diri dan atribut sebagai bagian dari team bukan sekedar pelaksana komunikasi yang menerima tugas dari atasannya.
- Karena public relations/ komunikasi akan efektif sebagai fungsi manajemen, pengetahuan yang memerlukan solusi dari multi-disiplin, pengembangan diri perlu dimulai dari dalam diri sendiri
Responses