The Nature of Work
Artikel ini saya buat berdasarkan berbagai referensi yang saya baca mengenai pengembangan organisasi yang berkaitan dengan karyawan dan komunikasi internal organisasi yang diperkaya dengan pengalaman empiris sebagai konsultan komunikasi khususnya internal dapat saya simpulkan bahwa suatu pekerjaan dalam organisasi pada dasarnya terdiri dari 3 dimensi dasar yaitu:
- physical ability (kemampuan secara fisik)
- skills (pengetahuan dan pengalaman)
- behavior (prilaku)
Kemampuan secara fisik, misalnya tingkat mobilitas, kemampuan untuk bergerak cepat, kemampuan untuk menggunakan keyboard, kemampuan untuk mengobservasi lingkungan termasuk diantaranya. Keterbatasan kemampuan secara fisik ini sekarang dapat diatasi dengan bantuan tehnologi atau staff pendukung kerja. Sementara dari sisi skill yang berdasarkan pengetahuan dan pengalaman, kita perlu menguasai elemen dasar, keterampilan komunikasi, kemampuan untuk memfasilitasi rapat, memimpin diskusi kelompok, mewawancarai calon karyawan, melakukan riset atau survei.
Akan tetapi masalah behavior (prilaku) seringkali sangat kurang diperhatikan. Sangat sedikit konsultan yang mau mengabdikan dirinya sebagai konsultan, apalagi konsultan internal yang banyak sekali kaitannya dengan prilaku internal dari suatu organisasi.
Konsultan komunikasi mungkin tidak tertarik untuk menjadi konsultan internal yang memerlukan pengetahuan, pengalaman dan proses yang panjang dalam melakukan konsultasi internal dibandingkan dengan konsultan yang mengerjakan proyek, event organizer atau publikasi, pemasaran, branding dan sebagainya yang berhubungan dengan pihak luar organisasi.
Menurut pengalaman saya sebagai konsultan komunikasi internal, ada 5 hal yang perlu diperhatikan:
- Perseverance: atau kegigihan untuk kemauan dan ketahanan untuk terus melaksanakan pekerjaan secara profesional, dengan menghilangkan hambatan internal dan tetap berada pada jalur profesional bahkan ketika menghadapi kritik dan sikap skeptisme dari klien atau PIC (Person in Charge) yang ditunjuk sebagai penghubung antara klien / organisasi dengan konsultannya.
- High self-esteem: kemampuan untuk menolak secara pribadi, untuk tidak berhubungan dengan pihak-pihak yang menunjukkan sikap negatif yang diberikan kepada suatu departemen atau rekan kerjanya.
- Well developed sense of humor: Kadang kala, konsultan perlu menganggapnya sebagai suatu humor, candaan ringan saja yang sebenarnya merupakan refleksi dari budaya organisasi untuk mau berubah atau tetap pada cara tradisional yang mereka ingin pertahankan.
- Willingness to take risk: keberanian untuk mengambil resiko. Konsultan internal tidak boleh mengambil ‘status quo’ atau cari aman. Sebagai profesional, dia harus bekerja berdasarkan etika profesinya. Konsultan internal harus berani mengambil resiko dengan mengguncang klien dalam arti memberikan fakta yang sebenarnya bukan menyayikan hasil yang dikehendaki kliennya.
- Creativity and Innovation
Tujuan utama konsultan dicari oleh organisasi, perusahaan adalah untuk membantu perusahaan menaikkan kinerjanya dengan meningkatkan standard dan kualitas kerjanya. Konsultan diharapkan untuk memberikan nilai tambah dengan memperkenalkan gagasan baru dan cara kerja yang lebih efektif untuk dapat diaplikasikan secara bertahap dan berkesinambungan.
Pada dasarnya, seorang konsultan internal diharapkan untuk dapat memengaruhi 3 faktor, yaitu kebutuhan kerja, kebutuhan pasar, dan kompetensi. Pada umumnya, perusahaan berusaha untuk memenuhi kebutuhan pasar dengan melakukan diversifikasi baik barang atau jasa, berupaya untuk meningkatkan kompetensi karyawan untuk meningkatkan kualitas kerjanya serta mengupayakan semua hal yang dapat diusahakan untuk mempertahankan minat kerja karyawannya.
Faktanya, baik physical ability dan skills, cara relatif lebih mudah untuk dapat ditingkatkan, baik melalui pelatihan, lokakarya, seminar, self study, case study. Akan tetapi faktor behavior (prilaku) ini yang seringkali menjadi kendala perusahaan untuk bergerak maju, aspek inilah yang kurang mendapatkan perhatian karena dianggap sudah terbiasa, sudah secara otomatis berjalan sendiri.
Pimpinan seringkali lupa bahwa untuk perubahan prilaku internal yang sangat perlu diperhatikan sejauhmana perubahan kehidupan karyawan, prilaku kepemimpinan para leader dari yang teratas, menengah sampai yang lini bawah yang setiap saat dapat berubah sesuai dengan banyaknya informasi yang berkembang, beredar apakah yang sesuai fakta, atau yang sengaja disebarluaskan karena adanya unsur kompetisi, persaingan usaha, persaingan tenaga kerja dan faktor ketenagakerjaan yang lain.
Mungkin juga diperlukan pemahaman mengenai ‘Hierarchy of Needs”, konsep yang ditawarkan oleh Abraham Maslow di mana di tingkat yang terendah adalah Basic Needs (kebutuhan utama), Security (keamanan), Belonging (kebutuhan berorganisasi), Self esteem (harga diri), Self Actualization (kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri melalui pengakuan dan penghargaan).
Konsultan internal yang profesional akan memberikan fakta dan insight berdasarkan jawaban empiris dengan metodologi penelitian yang secara ilmiah, berdasarkan temuan dan kajian bukan melalui survey atau penelitian pragmatis yang dibuat dengan kecenderungan untuk menyenangkan pemberi kerja. Independensi seorang konsultan sangat dipertaruhkan ketika dia diminta mempertanggungjawabkan temuannya.
Semoga uraian saya diatas dapat dipahami mengenai pentingnya kesehatan kerja melalui PRILAKU (behavior) yang secara praktis dapat tercermin dari kualitas komunikasi internal dari dalam perusahaan.
Responses